Pangsi, Peci Merah, dan Sarungnye Orang Betawi

pangsi 2Seni Budaye – Pangsi adalah pakaian kebesaran orang Betawi. Selain enak dipake buat shalat, berkebun, juga nyaman saat belajar main pukul alias pencak silat. Pangsi juga terasa simple dan santai untuk dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan, pangsi sudah trend untuk semua kalangan, tua maupun muda. Dalam beberapa event dan festival, pangsi kerap dipakai sebagai identitas masyarakat kota Jakarta dan sekitarnya.

Jika ada yang mengklaim, celana cingkrang alias ngatung menjadi identitas kelompok tertentu, sesungguhnya celana pangsi yang dikenakan jawara  Betawi dan engkong-engkong terdahulu sudah lebih dulu ada. Tak dipungkiri, imej baju pangsi ini lekat dengan Si Pitung, yang merupakan pakaian kebesaran orang Betawi tempo dulu.

“Pangsi adalah pakaian khas orang Betawi yang dipake orangtua kite dulu, khusunya jawara silat Betawi. Biasanye warna kebesaran pesilat Betawi itu hitam-hitam. Dulu, saat belajar main pukul (silat), mereka ngumpet-ngumpet, nggak ketahuan orang sekitar. Itulah sebabnya digunakan warna gelap alias hitam-hitam.”

Hal itu dikatakan Guru Silat Bachtiar dari Sanggar Si Pitung, Rawabelong, kepada penulis disela-sela Lebaran Pendekar Betawi 2016 di are Bunderan HI, Jakarta, belum lama ini.

Bicara Pangsi, seseorang terlihat gagah dengan koko yang polos, celana mengatung di atas mata kaki, kain sarung kotak-kotak yang di sematkan dileher, serta peci atau kopiah hitam atau merah. Dilengkapi atribut sabuk ijo (gesper), gelang bahar, cincin batu akik,  sendal kulit dan sebilah golok terselip di pinggang.

Makna Warna Pangsi

Lebaran Pendekar - Dua pesilat cilik dengan golok di tangan berdemostrasi ,saat di gelarnya acara Lebaran Pendekar Betawi, di kawasan Car Free Day, Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (7/8). Tujuan di adakan acara tersebut selain untuk melestarikan budaya Silat juga mengenal pakaian ada Betawi yakni Pangsi sebagai ciri khas dari budaya masyarakat Betawi. Kompas/Alif Ichwan (AIC) 07-08-2016

Adapun pangsi warna krem atau putih, dipake oleh jago silat yang juga pemuka agama. Biasanya pesilat yang mengenakan pangsi putih, dulu ngajinya sama engkong haji. Sedangkan warna hitam biasa dipakai para centeng, tapi ada juga yang dipakai kiai. Sementara, pangsi warna merah biasanya diartikan orang yang tinggi ilmu silatnya dan juga agamanya.

Lebih lanjut Bachtiar menjelaskan, “Dulu pangsi dan peci merah dipake oleh jawara atau tukang pukul yang ilmunya sudah tingkat tinggi, atau tukang  jalan dan banyak pengalaman. Dalam dunia persilatan Betawi, kalau peci merah sudah turun, itu luar biasa.  Ibarat pasukan elit, peci merah seperti tentara dengan baret merah. Artinya, menjadi ujung tombak untuk melakukan perlawanan.”

Ada yang mengatakan, peci dan pangsi merah sebagai simbol darah yang siap berkorban jiwa raganya. “Tapi saat ini pangsi merah dan peci merah hanya sebatas seni, siapa aja boleh pake peci dan warna merah. Seperti peci  haji, siapun bisa pake,” tandas Bachtiar.

Soal kain sarung kotak-kotak yang disematkan di leher, yang menjadi bagian dari pangsi, tentunya bukan sekedar pemanis saja. Itu sarung bisa dijadikan senjata untuk mengkepret lawan.

“Sarung yang kite pake bisa berfungsi untuk melipet senjata lawan seperti golok. Tingkatan ilmu guru ngaji yang jago silat, lawan jika dikepret dengan sarung, bisa-bisa klenger. Bahkan sarung juga bisa mengunci leher lawan. Jadi, bukan sarung sembarang sarung,” ungkap Bachtiar.

Bicara silat Betawi, tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam. Sebab, yang paling utama, sebelum main pukul adalah harus ngaji lebih dulu. “Memahami agama itu penting untuk memfilter dan mengerem kesombongan, lebih mengutamakan akhlak. Setelah punya basic agama, baru belajar main pukul sebagai bela diri. Jika kite tidak sombong, tapi lawan masih usil, maka kite harus bela diri untuk mempertahankan harga diri. Tidak benar, jika jawara Betawi jadi centengnya penguasa,” kata pimpinan Sanggar Si Pitung.

Pangsi Banyak dijual

jawara betawi

Menyinggung sedikit sejarah pangsi, Rahmat (35) alias Mat Pangsi, penjual pangsi Betawi di pinggiran Jalan Haji Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menambahkan, pada jaman kolonial Belanda, terdapat jagoan Betawi bernama Sabeni. Sesepuh silat Betawi tersebut kemudian menurunkan ilmu bela dirinya turun temurun hingga sampai ke keluarganya.

“Saya ikut main pukulan (silat) karena istilahnya daun sawit campur ketupat, kue bolu dicampur tepung. Kita orang Betawi enggak main silat, malu sama arwahnya Bang Pitung. Akhirnya, saya juga berminat untuk dagang baju yang dipakai sama almarhum Kong Sabeni. Usaha saya ini berlanjut sampai sekarang,” katanya.

Keinginan Mat Pangsi untuk melestarikan budaya Betawi tak redup. Ia berwirausaha dengan menjual satu setel pangsi betawi yang terdiri dari baju, celana dan sabuk dijual dengan harga 130 ribu hingga 150 ribu rupiah. Harganya bisa bervariatif, ada juga yang menjual pangsi lengkap dengan aksesoris peci dan sabuk hijaunya dengan harga sekitar Rp200.000 – Rp300.000.

Untuk Peci satuan Rp.30.000, sabuk Rp50.000. “Kalau peci warnanya cuma merah maroon dan merah cabai. Itu identik banget sama Betawi. Pelanggan saya tidak hanya orang Betawi atau mereka yang berada di komunitas lenong dan silat. Namun, kalangan biasa dari kecil hingga dewasa pun juga berminat dengan pangsi. Jangan salah, penjualan baju pangsi meningkat jelang lebaran.”

Saat ini, pedagang baju pangsi banyak ditemui di pasar-pasar tradisional seperti pasar Tanah Abang. Banyak juga pedagang baju pangsi yang memasarkan dagangannya lewat internet. Sejak adanya peraturan pemakaian baju khas Betawi di kalangan PNS Pemprov DKI Jakarta, kini baju pangsi semakin naik pamor.

Geliat baju pangsi semakin terlihat. pangsi tak hanya bisa dilihat pada acara festival kesenian budaya Betawi atau acara pernikahan adat Betawi. Belum lama ini, saat Lebaran Pendekar Betawi di Bunderan HI, pakaian pangsi dikenakan para jago silat dari berbagai aliran. Ternyata banyak juga orang yang masih peduli dengan warisan budaya Betawi. Sebab, kalau bukan kite siape lagi yang peduli. (des)

%d blogger menyukai ini: